Singkarak, Denbagus.co-Baru dua bulan dipercaya emban jabatan sebagai Camat X Koto Singkarak, Syafrizal, SKM., menggagas inovasi “BASUMANDAN”, singkatan dari Basamo Untuk Menjaga Kelestarian Alam Danau Singkarak. Gagasan ini lahir dari keprihatinannya terhadap persoalan sampah dikawasan Danau Singkarak sekaligus upaya menjaga lingkungan, keberlangsungan ekosistem ikan bilih dan mengangkat potensi pariwisata Danau Singkarak.
Tumpukan sampah disepanjang bibir Danau Singkarak menjadi persoalan yang semakin terlihat ketika musim kemarau panjang. Saat permukaan air danau turun beberapa meter dari kondisi normal, kawasan tepian yang sebelumnya tertutup air akan memperlihatkan timbunan sampah yang mengganggu kebersihan dan keindahan danau. Pada moment inilah kegiatan akan dilaksanakan dimana saat turunnya permukaan air danau.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan tepian danau memiliki peran penting bagi ekosistem perairan. Danau Singkarak sendiri dikenal sebagai habitat ikan bilih, ikan endemik yang memiliki nilai jual cukup baik dan selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat. Karena itu, menjaga kebersihan danau juga berarti menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat yang bergantung pada hasil tangkapan bilih.
Syafrizal ingin BASUMANDAN tidak berhenti sebagai gerakan membersihkan sampah. Inovasi ini dirancang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan gotong royong membersihkan kawasan Danau Singkarak. Semangatnya adalah membangun kesadaran bahwa menjaga danau merupakan tanggung jawab bersama.
“Untuk lebih meriah, kegiatan ini nantinya kami namakan Alek BASUMANDAN Singkarak, yaitu Alek Basamo Untuk Manjago Danau Singkarak. Kegiatan ini akan berkolaborasi dengan adat, kebiasaan serta budaya daerah,” ujar Syafrizal, (Minggu, 30/8/2026)
Keunikan kegiatan tersebut terletak pada konsep setelah gotong royong. Masyarakat, khususnya kaum ibu, nantinya dapat membawa berbagai jenis makanan sesuai kemampuan masing-masing untuk kemudian dinikmati bersama melalui tradisi makan bajamba atau makan balanjuang. Tradisi ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi sekaligus menghidupkan nilai kebersamaan dalam budaya Minangkabau.
Jika memungkinkan, Alek BASUMANDAN akan dipusatkan di kawasan Dermaga Singkarak dan dilengkapi pertunjukan kesenian tradisional Minangkabau. Perpaduan aksi lingkungan, makan bersama dan kesenian tersebut diharapkan mampu menciptakan kegiatan yang tidak hanya menarik bagi masyarakat, tetapi juga memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Menurut Syafrizal, pengembangan BASUMANDAN membutuhkan dukungan lintas sektor, terutama Dinas Pariwisata. Dengan kolaborasi tersebut, kegiatan menjaga danau diharapkan dapat berkembang menjadi agenda berbasis masyarakat yang menggabungkan pelestarian lingkungan, budaya, ekonomi lokal dan pariwisata.
Pada akhirnya, Alek BASUMANDAN Singkarak diharapkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga Danau Singkarak sebagai sumber kehidupan. Bukan hanya untuk mempertahankan kebersihan dan habitat ikan bilih, tetapi juga memastikan keindahan, budaya dan potensi wisata danau tetap terjaga bagi generasi mendatang. Basamo manjago danau, basamo menjaga kehidupan.(TIM)




















