Solok, Denbagus.co-Sebuah momentum yang mengukir catatan tersendiri dalam penanganan bencana di Kabupaten Solok. Ditengah situasi tanggap darurat bencana galodo dan banjir bandang Arosuka, Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Melalui Kejaksaan Negeri Solok menunjukkan kepedulian nyata dengan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan para relawan.
Dapur umum tersebut menjadi salah satu titik pelayanan kemanusiaan dengan menyiapkan sedikitnya 1.085 porsi makanan setiap hari. Jumlah itu terdiri dari 400 porsi sarapan nasi goreng, 400 porsi makan siang dengan menu bergizi dan berkualitas, serta 285 porsi makan malam yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak dan berbagai unsur yang bekerja dalam penanganan bencana
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian institusi Adhyaksa tidak semata berada pada tugas penegakan hukum. Ketika masyarakat menghadapi bencana dan membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar, Kejaksaan hadir mengambil bagian melalui kerja kemanusiaan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
Ditengah aktivitas dapur umum, Kepala Kejaksaan Negeri Solok Nurwendah Arumsari, S.H., M.H., turun langsung memastikan pelayanan berjalan dengan baik, Kamis (24/9/2026). Dalam setiap kegiatan tanggap darurat tersebut, Kajari Solok selalu didampingi Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Solok, Delfiandi, S.H., M.H.
Nurwendah memeriksa berbagai aspek, mulai dari kebersihan dan kerapian dapur, kualitas bahan pangan hingga proses pengolahan makanan sebelum disajikan. Ia memastikan produksi dalam jumlah besar tetap mengedepankan kebersihan, kesehatan dan kualitas, sehingga kecepatan memenuhi kebutuhan pangan pada masa darurat tidak mengabaikan kelayakan makanan yang diterima masyarakat.
Kepedulian tersebut kemudian bergerak keluar dari dapur umum. Di sela kesibukan penanganan tanggap darurat, Nurwendah bersama Delfiandi mendatangi sejumlah keluarga terdampak galodo untuk menyerahkan bantuan berupa beras dan selimut, sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang tengah berjuang melewati masa sulit akibat bencana.
Untuk menjangkau warga, medan yang ditempuh tidak seluruhnya mudah dilalui. Nurwendah dan Delfiandi harus berjalan kaki serta menggunakan sepeda motor melewati kawasan yang masih dipenuhi lumpur agar bantuan dapat diterima langsung oleh masyarakat yang membutuhkan. Kehadiran keduanya menunjukkan bahwa kepedulian tidak berhenti pada instruksi, tetapi diwujudkan melalui kehadiran langsung di lapangan.
Bagi masyarakat terdampak, setiap porsi makanan, beras dan selimut bukan semata bantuan material. Di tengah lingkungan yang porak-poranda diterjang galodo, bantuan tersebut membawa pesan kemanusiaan bahwa masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri. Berbagai unsur terus bergerak bersama membantu memenuhi kebutuhan warga dan mendukung proses pemulihan.
Kehadiran Kejari Solok sekaligus memperkuat kerja bersama dalam penanganan bencana Arosuka. Pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, relawan, organisasi sosial dan berbagai elemen masyarakat menjalankan perannya masing-masing, sementara institusi Adhyaksa mengambil bagian melalui dapur umum, distribusi bantuan dan keterlibatan langsung menjangkau warga terdampak.
Ditengah Galodo Arosuka, kepedulian akhirnya tidak berhenti sebagai kata-kata. Dari dapur yang mengepul menyiapkan 1.085 porsi makanan setiap hari hingga langkah menembus lumpur membawa beras dan selimut, Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat melalui Kejaksaan Negeri Solok menerjemahkan pengabdian menjadi tindakan nyata hadir, bekerja dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat ketika mereka membutuhkan pertolongan.(Tim)




















