Solok, Denbagus.co–Diduga minim pengawasan, pengaspalan Paket Jalan Lintas Sumatera Batas Kota Solok – Padang Panjang rentan mutu buruk, dan diduga sebabkan kerugian negara.
Hal ini diduga terjadi pada pengerjaan pengaspalan di ruas Lintas Sumatera yang terletak di Nagari Tanjung Bingkung Kecamatan Kubung Kabupaten Solok, Rabu 17 Juni 2026.
Pengerjaan pengaspalan yang biasa dikerjakan saat cuaca cerah, tetapi justru pada hari tersebut, Aspal dihampar saat kondisi jalan basah, bahkan saat kondisi cuaca masih hujan. Dan kondisi tersebut tentu saja sangat dikhawatirkan mempengaruhi kualitas dan mutu dari pengaspalan tersebut.
Bahkan, penghamparan aspal saat hujan harusnya tidak dilakukan, karena Air hujan diyakini dapat mendinginkan campuran aspal panas dengan cepat, merusak daya rekat, dan menjebak uap yang mencegah pemadatan optimal.
Kemudian, kondisi tersebut diyakini dapat memicu kerusakan struktural, seperti pengelupasan, retakan, dan munculnya lubang.
Artinya Jalan yang sedang dibangun diduga tidak akan bertahan lama. Dan uang negara yang di alamatkan ke pekerjaan tersebut akan jadi sia-sia.
Dilokasi pengerjaan, Pelaksana yang mengaku bernama Budi, didampingi pelaksana lainnya bernama Roni, saat dikonfirmasi, menyampaikan jika aspal yang dihampar adalah sisa yang masih ada di dalam mesin, dah sengaja di habiskan supaya tidak mengeras kembali.

“Tadi hujannya, antara mau berhenti atau tidak, kita coba juga untuk berpogres gitu pak. Tahunya pas dihampar hari hujan, yang sudah terhampar tidak mungkin kita tarik lagi kan, tentu harus dihabisin dulu, kita selesaikan yang sudah terhampar ini,” ungkap Roni.
Selanjutnya, masih dari pihak rekanan, PT. Sarana Mitra Saudara melalui Jhoni Wijaya selaku General Superitenden (GS), ketika di konfirmasi, Jumat 19 Juni 2026, selintas seperti sangat percaya diri, dan merasa pekerjaan tersebut baik-baik saja, seolah mendapat dukungan penuh dari pejabat Balai Jalan Nasional Sumatera Barat.
“Pada hari Rabu siang memang ada hujan saat menghampar aspal. Aspal yang sudah tertuang dalam finisher itulah yang kita selesaikan hamparannya karena bisa mengeras di alat dan kegiatan penghamparan disetop setelah material di finishernya habis. Aspal yang sudah terhampar langsung dipadat dengan tandem dan TR secara normal pak (bukan tergesa2) Tentu saja saat pemadatan ada aspal yang terkena hujan. Tidak ada pernyataan anggota lapangan yang sengaja menghampar disaat hujan”. Ujar Jhoni.
Menjadi kesan tidak baik, seakan mendapat dukungan dari Balai Jalan Nasional, Jhoni secara tidak langsung mengakui, jika dibawah pengawasan pelaksana mereka sendiri, aspal di lokasi yang dimaksud memang dihampar saat hujan, bahkan di curigai lebih dari 1 unit mobil colt diesel dengan perkiraan volume 10 sampai dengan 20 ton Aspal.
“Maksud mereka bukan sengaja menghampar saat hujan pak, tapi yang tertuang di finisher tentu segera digelar/dihampar dan dipadatkan” akui Jhoni.
Walaupun pengakuan awalnya tidak sampai dihampar satu mobil, pada pernyataan berikutnya ke media ini, mengakui masih ada satu mobil lagi yang saat itu juga yang akan dihampar, yang katanya dilakukan saat ujan reda.
“Tidak sampai 1 mobil pak,”
“1 mobil Cold Diesel (kuning) itu pak,”
” Mobil yang lain parkir didepannya dan tidak dibongkar, menunggu hujan reda pak,” dengan perkiraan isi mobil,
9-10 Ton.
Bahkan dengan sangat ringan memberikan analogi kepada media ini,” Saya cuma mengambil contoh pak, ketika bapak bawa motor dijalan ketemu hujan apa bapak langsung berhenti biar tidak kena hujan dan sakit?,” katanya mencontohkan.
Disisi lain, pertanyaan besar justru datang kepada sosok PPK 1.1 PJN 1 Sumbar, Noor Arias Syamsu, ST. M. Si, sebab ketika dilakukan konfirmasi melalui pesan Whatapps (+62 811-6**-***), sampai berita ini ditayangkan tidak memberikan jawaban apapun, walaupun sudah dibaca dengan tanda dua centang biru dipesan yang dikirimkan.
Penjelasan yang seharusnya didapatkan langsung darinya secara teknis,termasuk dugaan minimnya pengawasan dari PJN sendiri, diduga justru mempercayakan klarifikasi untuk media kepada pihak GS kontraktor pelaksana, Jhoni Wijaya. (Miler)




















